Selasa, 08 November 2011

proses Pengelasan

Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang continue.

Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran dan sebagainya.

Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las pada perkakas mempertebal bagian-bagian yang sudah aus dan macam-macam reparasi lainnya.

Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan las dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan dan memperlihatkan kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan kegunaan kontruksi serta kegunaan disekitarnya.

Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya di dalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahannya memerlukan bermacam-macam penngetahuan.

Karena itu di dalam pengelasan, penngetahuan harus turut serta mendampingi praktek, secara lebih terperinci dapat dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan sambungan las, harus direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan. Cara ini pemeriksaan, bahan las dan jenis las yang akan digunakan, berdasarkan fungsi dari bagian-bagian bangunan atau mesin yang dirancang.

Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen) las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Pada waktu ini telah dipergunakan lebih dari 40 jenis pengelasan termasuk pengelasan yang dilaksanakan dengan cara menekan dua logam yang disambung sehingga terjadi ikatan antara atom-atom molekul dari logam yang disambungkan.klasifikasi dari cara-cara pengelasan ini akan diterangkan lebih lanjut.

Pada waktu ini pengelasan dan pemotongan merupakan pengelasan pengerjaan yang amat penting dalam teknologi produksi dengan bahan baku logam. Dari pertama perkembangannya sangat pesat telah banyak teknologi baru yang ditemukan. Sehingga boleh dikatakan hamper tidak ada logam yang dapat dipotong dan di las dengan cara-cara yang ada pada waktu ini.

Dalam bab ini akan diterangkan beberapa cara penngelasan dan pemotongan yang telah banyak digunakan sedangkan penerapannya dalam praktek akan diterangkan dalam bab-bab yang lain.

Selasa, 01 November 2011

smk n 1 pordjo

SMK Negeri 1 Purworejo adalah salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Purworejo yang melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Teknik. Proses yang cukup panjang telah dialami oleh Sekolah iini untuk menjadi seperti sekarang ini.
Berawal dari semangat dan cita-cita luhur beberapa putera daerah Kabupaten Purworejo, pada tahun 1963 mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan yang bernaung di bawah Yayasan Sekolah Perkapalan Semarang dan diberi Nama STM Perkapalan Purworejo di Jalan Raya Kutoarjo – Purworejo km 2,5 tepatnya di Desa Kledung Karang Dalem Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo.
Pada bulan Juni 1966 Sekolah ini meningkat menjadi Kelas jauh dari STM Negeri II Semarang untuk Jurusan Mesin Kapal dan kelas jauh dari STM Negeri IV Semarang untuk Jurusan Dermaga Samudera.
Pada tahun 1967 Sekolah ini ditetapkan menjadi STM Negeri Purworejo melalui SK Menteri P dan K Nomor : 389/Kep.Dit.pt/86/67 tertanggal 16 Oktober 1967 dan membuka jurusan Mesin untuk menggantikan jurusan Mesin Kapal.
Sesuai dengan kebutuhan daerah saat itu dengan SK Menteri P dan K No. D. 302/Set-DDT/69 tertanggal 27 Desember 1969 Jurusan Dermaga Samudera diganti dengan Jurusan Bangunan Air dan Bangunan Gedung ditambah Jurusan Baru yakni Jurusan Listrik. Dengan demikian SMK Negeri 1 Purworejo atau STM Negeri Purworejo dinyatakan berdiri sendiri sebagai Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kabupaten Purworejo sejak tanggal 16 Oktober 1967 dan Kepala Sekolah pertama yang memimpin STM Negeri Purworejo adalah Alm. R. Ma’oen Setjonolo sampai dengan tahun 1971.
Tahun Pembelajaran 1971 sampai dengan 1976 terus dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan pelayanan pendidikan dibawah kepemimpinan Alm. Drs. Hadi Wijono. Tahun 1976 sampai dengan tahun 1988 dibawah kepemimpinan alm. R. Wachjudi, BE terjadi penggolongan Rumpun yakni Rumpun Bangunan dengan Program Studi Bangunan Gedung, Rumpun Listrik dengan Jurusan Listrik Instalasi dan Rumpun Mesin dengan Program Studi Mekanik Umum ( SK Nomor 108/C4/Kep/I.86 tertanggal 4 Desember 1986). Bantuan pemerintah untuk dunia pendidikan kejuruan terus berlanjut pada masa kepemimpinan R. Wachjudi, BE. Rintisan untuk memperluas area Sekolah dengan Sarana dan Prasarana yang lebih representatif dikabulkan dengan dibangunnya Sekolah di lokasi yang baru di Desa Kledung Kradenan Kec. Banyuurip Purworejo tepatnya Jl. Tentara Pelajar Kotak Pos 127 Purworejo atau jalan utama Purworejo – Kutoarjo Km. 3. Letaknya sangat strategis ; 300 M barat laut dari SMK N1 Purworejo berdiri Gedung Olah Raga dan Stadion WR Supratman, tepat disebelah utara berdiri Gedung / Sanggar Pramuka, 500 M disebelah barat adalah Terminal Bus – Purworejo. Jalan utama Purworejo – Kutoarjo dilayani transportasi angkutan kota yang memudahkan masyarakat datang atau berkunjung ke SMK Negeri 1 Purworejo untuk memanfaatkan pelayanan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Teknik.
SMK Negeri 1 Purworejo adalah lembaga pendidikan yang terbuka bagi masyarakat luas. Tahun 1988 sampai dengan 1994 STM Negeri Purworejo dipimpin oleh R. Moch. Saleh, BE. Pada masa ini Sekolah pindah ke lokasi baru tersebut. Program Studi bertambah yakni Program Studi Teknik Pekerjaan Logam yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Teknik Las dan Teknik Bangunan Air.
Tahun 1994 sampai dengan 1996 STM Negeri Purworejo dipimpin oleh Drs. Suharyanto, dan karena prestasinya dalam memimpin beliau dimutasi ke STM Pembangunan Textil Pekalongan walaupun baru 2 tahun mengabdikan dirinya di STM Purworejo.

Tahun 1994 sampai dengan tahun 2004 Drs. Sigit Pramuko R tampil memimpin STM Negeri Purworejo yang dengan adanya kebijakan pemerintah STM Negeri Purworejo berganti nama Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Purworejo ( SMK Negeri 1 Purworejo ). Pada bulan September 2004 serah terima kepemimpinan dilakukan dari Drs. Sigit Pramuko R kepada Drs. Hanafie. Sedangkan pada 10 September 2007 SMK Negeri 1 Purworejo dipimpin oleh Bapak H. Hery Maryanto, M.Pd